Mengenal Kopi Kawa Daun, Minuman Khas Rang Minang dengan Sejarah Perihnya

Perbendaharaan rasa kuliner khas Indonesia di lidah penulis bertambah semalam. Setelah dulu populernya Kopi Luwak bergeming di telinga penulis sekarang ada Kopi Kawa Daun beranjak naik. Penulis yang biasanya menghabiskan sabtu malam dengan menelepon orangtua saja atau sekedar mengevaluasi diri tak kuasa membendung rasa penasaran mengenai kuliner unik satu ini. Dari namanya yang begitu kental akan nilai tradisi dan kesederhanaan membuat penulis beranjak dari istana pribadi (kamar kost) penulis. Sebelum penulis memberi testimoni mengenai rasa khas dari Kawa Daun secara pribadi. Mari kita lihat sejarah dan penjelasan mengenai Kawa Daun sejenak. 

Apa itu kawa daun?
Kawa artinya kopi. Dari bahasa arab qahwah. Daun sendiri dari bahasa Indonesia. Jadi kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Seperti teh yang diseduh dengan air panas, dan bukan dari bijinya. Cara menikmatinya juga terbilang unik, yaitu memakai tempurung alias batok kelapa dengan biasanya satu paket dengan gorengan. Sambil bersila di atas balai-balai bambu seraya dihembus angin sepoi-sepoi dingin pegunungan, sungguh kenikmatan tak terkira bagi penggemarnya. Warna kelat dari Kawa Daun sendiri menggambarkan jelas sejarah kelamnya dulu dan utamanya bagi orang Minang.

Sejarah Kawa Daun
Bermula dari keinginan Gubernur Jenderal Van den Bosch untuk menerapkan tanam paksa kopi di Ranah Minang pada 1840 menyusul keberhasilan di Tanah Jawa 10 tahun sebelumnya. Kopi adalah komoditi bernilai tinggi di Eropa sehingga keuntungan yang diraup sungguh luar biasa bagi Belanda.
Akibat harganya yang tinggi itu, semua biji kopi harus diserahkan ke gudang kopi alias koffiepakhuis tanpa boleh tercecer sebijipun. Lalu muncul sebutan pakuih kopi bagi pegawai pribumi yang mengurus gudang kopi ini dan mereka terciprat ikut menjadi kaya.
Tapi malang bagi masyarakat kebanyakan. Mereka hanya boleh menanam saja tanpa boleh mencicipi rasa minuman kopi yang diolah dari bijinya. Kopi adalah minuman para dewa yang tak terjangkau tangan. Tapi tak kayu janjang dikapiang, tak ameh bungka diasah, timbullah ide kreatif untuk membuat minuman dengan menyeduh daunnya. Demi dapat mencicipi rasa kopi yang harum itu. Dapat dipastikan bahwa ide ini muncul terinspirasi dari cara mengolah daun teh menjadi minuman. Sayangnya ide ini tidak tercatat dengan baik kapan munculnya, dimana dan oleh siapa.
Pastinya rasa daun kopi tidak sama dengan rasa biji kopi. Tapi setidaknya ada bau-bau kopinya juga. Kelat-kelat sedikit tidak apa lah, mungkin begitu pandangan masyarakat saat itu. Penderitaan ini baru berakhir pada tahun 1908 ketika tanam paksa kopi diganti dengan penerapan belasting atau pajak. Namun tradisi minum air daun kopi ternyata tidak ikut berhenti yang mungkin karena sudah berlangsung lebih dari 60 tahun.
Proses  Pembuatan Kawa Daun
Sebelum diseduh daun kopi diasapi dulu sampai kering. Setelah itu baru disiram dengan air panas didalam tabung bambu. Selanjutnya ditambahkan gulo saka sebagai pemanis dan jadilah setempurung Kopi Kawa Daun.
kawa daun
Proses pengasapan daun kopi ini yang terekam dalam sebuah potret koleksi Tropen Museum. Beberapa orang ibu sedang bakalumun asok mengasapi daun kopi. Di belakang mereka didirikan tikar sebagai penghalang angin. Tentu saja karena  mereka tidak mengharapkan api menyala dan membakar daun-daun kopi itu. Kalau daunnya sudah berbunyi gemerisik artinya proses pengasapan sudah selesai lalu siap untuk diolah selanjutnya.
Satu lagi tentang istilah Melayu Kopi Daun. Konon ini sebutan bangsa Belanda kepada orang Minang karena mereka meminum minuman kawa daun ini. Tepatnya sebuah hinaan dan pernah ada salah satu cerita bahwa istilah melayu kopi daun bukan diberikan oleh penjajah Belanda, tetapi karena salah tangkap pendengaran orang Minang terhadap makian khas Belanda, “Melayu G*dverdomme“. Tapi intinya tetap sama: istilah itu muncul dari sebuah hinaan dan makian.
Testimoni Penulis
Baiklah penulis akan menyampaikan pendapat mengenai keunikan dan rasa Kopi Kawa Daun ini. Sesuai paparan di atas dari tempat meminumnya pun sudah membuat kita penasaran, yaitu dari tempurung kepala dan dialaskan selonjong bambu. Rasa Kawa Daun sendiri terbilang seperti teh dan sedikit kekopi-kopian (sebenarnya penulis juga bingung mendeskripsikannya bagaimana). Sangat enak sekali diminum saat cuaca dingin dan ditemani makanan gigitan lainnya.
Pembaca yang penasaran dan ingin mencobanya mungkin bisa ke salah satu kedai Kopi Kawa Daun yang harganya terjangkau sekali. Bukan hanya Kawa Daun namun ada juga Pisang Kapik ataupun Ketan yang cocok disandingkan dengan Kawa Daun.
Ini salah satu kedai Kopi Kawa Daun di daerah Jakarta Selatan.
y3PprT5D_400x400
Kedai Kawa Wahidin
Jalan Sahardjo no.102 Jakarta Selatan
Salam,
Idrus

Advertisements

4 thoughts on “Mengenal Kopi Kawa Daun, Minuman Khas Rang Minang dengan Sejarah Perihnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s